Madinah, Arab Saudi, Rata News.id :
Rombongan Jamaah Haji Kloter 4 asal Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, saat ini, Sabtu (2/5/2026), masih berada di Kota Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi, untuk menyelesaikan sholat Arbain di Masjid Nabawi.
Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah, adalah masjid suci kedua dalam Islam, yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 622 M. Terletak di pusat Madinah, masjid ini memiliki keutamaan pahala salat 1.000 kali lipat lebih besar, dibanding masjid lain (kecuali Masjidil Haram), serta menjadi tempat makam Rasulullah SAW dan area istimewa Raudhah.
Menurut Gundur Pulungan, MSi, salah seorang jamaah haji asal Kelurahan Rantaulaban, Kota Tebingtinggi, Sumatera Utara, kondisi para jemaah asal Kota Tebingtinggi, masih dalam keadaan sehat-sehat, meskipun ada beberapa orang mengalami sakit ringan, akibat faktor cuaca maupun usia.

Dikatakan Gundur, jarak dari hotel tempat menginap jamaah Kota Tebingtinggi ke Masjid Nabawi berkisar 500 meter. “Kondisi hotel lumayan dan makan juga lumayan, meskipun di sana sini masih ada kekurangan,” ucap Gundur Pulungan, ketika dihubungi Wartawan Rata News.id, Sabtu pagi (2/5/2026).
Lebih lanjut disampaikan Gundur Pulungan, rombongan jemaah haji Kota Tebingtinggi, akan diberangkatkan dari Madinah ke Makkah, Senin pagi (3/5/2026) Waktu Arab Saudi, untuk melaksanakan umrah wajib (rangkaian haji Tamattu’) dan bersiap memasuki puncak ibadah haji di Tanah Suci.
Dalam perjalanan, kata Gundur, jemaah singgah di Masjid Bir Ali (Dzulhulaifah), untuk mengambil miqat dan berniat ihram. “Do’akan kami bersama rombongan pak, semoga sehat-sehat dan lancar menjalankan ibadah haji, wajib dan Sunnahnya,” papar Gundur Pulungan.

*Jamaah Wafat*
Suasana duka menyelimuti jamaah haji Indonesia Tahun 1447 H/2026 M. Hingga Sabtu, 2 Mei 2026, tercatat sebanyak lima jemaah haji asal Indonesia dilaporkan wafat di Madinah, Arab Saudi.
Seluruh jemaah meninggal dunia, merupakan bagian dari gelombang pertama yang baru saja tiba di Tanah Suci. Berdasarkan data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), mayoritas jemaah menghembuskan napas terakhir, akibat kondisi kesehatan yang menurun dan serangan jantung, tak lama setelah mendarat di Bandara King Abdul Aziz, maupun saat berada di pemondokan.
Hingga saat ini, kelima jemaah yang terkonfirmasi wafat adalah:
– Rodiah (68) dari Kloter SOC 03 (Solo).
– Kamariah Dul Tayib (85) dari Kloter SUB 08 (Pasuruan).
– Nursidah Sinrang Sijarra (59) dari Kloter UPG (Gowa).
– Tukiman Sardi Kromo Karso (54) dari Kloter PDG 04 (Kota Bengkulu).
– Dawanus Mahmud Muhammad Hasim (51) dari Kloter BTH 05 (Kampar, Riau).

Petugas Kesehatan Haji Indonesia mengungkapkan, bahwa faktor kelelahan setelah perjalanan panjang serta riwayat penyakit bawaan (comorbid), menjadi pemicu utama. Beberapa jemaah bahkan dilaporkan wafat hanya dalam hitungan jam, setelah menginjakkan kaki di Madinah.
Seluruh jemaah tersebut, meninggal dunia di Madinah, mengingat saat ini konsentrasi jemaah gelombang pertama masih fokus melaksanakan ibadah Arbain di Masjid Nabawi, sebelum nantinya diberangkatkan menuju Makkah.
Menanggapi hal ini, Kementerian Agama RI memastikan, bahwa seluruh jemaah yang wafat sebelum sempat melaksanakan wukuf akan mendapatkan layanan badal haji. Program ini diberikan secara cuma-cuma oleh petugas haji, sebagai bentuk perlindungan dan pemenuhan hak jemaah.

“Keluarga di tanah air tidak perlu khawatir, terkait kelanjutan ibadah almarhum/almarhumah, karena pemerintah akan membadalkan hajinya,” ujar perwakilan PPIH di Madinah.
Selain itu, pemerintah juga menjamin pemberian asuransi jiwa, bagi jemaah yang wafat selama masa operasional haji sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jenazah para jemaah tersebut, menurut rencana akan dimakamkan di Pemakaman Baqi, Madinah, setelah melalui proses administrasi dan penyalatan di Masjid Nabawi.
*Menu Makan*
Menu konsumsi jemaah haji Indonesia Tahun 2026 di Kota Madinah tetap mengusung cita rasa Nusantara. Para jemaah mendapatkan porsi makan sesuai dengan selera Tanah Air, mulai dari nasi hingga puding.
Sebanyak 23 dapur katering dilibatkan dalam penyediaan konsumsi jemaah. Seluruh proses produksi hingga distribusi berada dalam pengawasan ketat, guna menjamin kualitas makanan serta kepatuhan terhadap standar kesehatan.

Distribusi makanan dilakukan tiga kali sehari, mencakup sarapan, makan siang, dan makan malam. Makanan dikirim langsung ke hotel, sehingga memudahkan jemaah, terutama lanjut usia, tanpa perlu keluar untuk mencari makan.
Semoga para jemaah haji Indonesia Tahun 2026, sepulangnya ke tanah air, menjadi haji yang mabrur dan mabrurah. (02.RN/H. Suhartoyo).











