
MEDAN, RATA NEWS.ID ; Kota Medan kembali diselimuti duka. Pada Sabtu, 30 Agustus 2026, Sugianto, sosok yang akrab disapa Bung Anto, menghembuskan napas terakhirnya. Pria kelahiran Kediri, 16 Mei 1974 itu pergi meninggalkan orang-orang yang selama ini ia bela dan perjuangkan. Kepergiannya menyisakan ruang kosong yang terasa begitu dalam, bagi kawan-kawan seperjuangan dan masyarakat.
Bagi banyak orang, Sugianto bukan hanya seorang aktivis. Ia adalah rumah. Tempat berteduh di tengah derasnya penindasan. Sepanjang hidupnya ia dikenal sebagai pribadi yang tak pernah lelah memikul beban orang banyak. Tubuh berkali-kali memar demi membela mereka yang tertindas, kini terbujur kaku dalam diam.
“Betapa kejam dialektika ini menyisakan kita yang tertinggal, memegang panji-panji, kini terasa jauh lebih berat tanpa genggaman tangannya,” ungkap salah seorang rekan dekatnya dengan suara bergetar.
Langkah Sugianto di tanah Medan memang telah terhenti. Namun semangat dan bayangannya yang selalu berada di garis depan perjuangan akan terus hidup. Setiap tetes keringat dan darah yang ia curahkan untuk rakyat, kini berubah menjadi duka, menetes di dada setiap sahabat mencintainya.
“Selamat jalan, bung Angto. Beristirahatlah dengan tenang, Kawan. Tubuhmu yang lelah kini telah kembali ke pelukan bumi, namun kepedihan atas kepergianmu akan kami rawat sebagai bara, menjadi pengingat abadi bahwa di dunia serba tidak adil ini, pernah ada seorang sahabat begitu mencintai rakyatnya, hingga napas paling akhir,” tulis salah satu kawan dalam pesan perpisahan.
Kepergian Sugianto menjadi kehilangan besar bagi gerakan sosial di Medan. Nama dan perjuangannya akan terus dikenang sebagai bukti bahwa masih ada orang yang memilih berdiri di pihak rakyat, sampai akhir.
Selamat jalan, Bung Anto. (01.RN/Rel).











