Karangbaru, Aceh Tamiang, Rata News.id :
Pukul 16.00 Wib, Sabtu (13/12/2025), rombongan Relawan dari Rumah Sakit Umum Daerah dr. Kumpulan Pane, Kota Tebingtinggi dipimpin Ainal Iqram Sitepu, mengantar bantuan kemanusiaan korban bencana banjir Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, tiba dilokasi terparah diterjang banjir.
Berangkat dari Kota Tebingtinggi sekitar jam 09.00 Wib, tiga armada mobil beserta 12 orang tenaga medis dan instalasi RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi, langsung menuju lokasi terdampak banjir paling parah, dengan menyusuri jalan penuh lumpur, sedang dikiri-kanan badan jalan, dihiasi pemandangan rumah warga porak poranda.

Di beberapa titik, rumah penduduk tampak miring, bahkan sebagian bergeser hingga masuk ke badan jalan. Rumah berbahan kayu paling banyak menjadi korban, dinding terlepas, pondasi hanyut, dan perabotan berserakan.
Sementara itu, rumah beton masih berdiri, meski pagar dan gentengnya tampak rusak diterjang arus. Lumpur yang mengering membentuk lapisan tebal berwarna cokelat di setiap sudut jalan.

Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebuah kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Timur dan terletak di perbatasan antara Provinsi Aceh dengan Provinsi Sumatera Utara. Pada akhir tahun 2023, jumlah penduduk Aceh Tamiang sebanyak 308.102 jiwa, dengan luas wilayah 1.957 kilometer persegi, ber-Ibukota Karangbaru.
Wartawan Rata News.id Maradhona Ritonga, dari daerah bencana Aceh Tamiang mendapat cerita dari warga setempat, banjir besar akhir Nopember 2025 melanda Dusun Al-Ikhsan, Desa Lintang Bawah, Aceh Tamiang, menyebabkan kerusakan parah dan penderitaan bagi warga setempat.

Desa Lintang Bawah, termasuk Dusun Al-Ikhsan, mengalami kerusakan yang signifikan akibat banjir bandang, dengan banyak rumah dan bangunan warga porak-poranda. Ratusan ribu warga di Aceh Tamiang, termasuk di desa ini, terpaksa mengungsi dan banyak yang kehilangan tempat tinggal.
Beberapa warga bahkan memilih untuk bertahan di antara sisa reruntuhan rumah mereka. Sementara, situasi pascabanjir masih kritis, dengan adanya laporan krisis air bersih dan kebutuhan bantuan logistik yang mendesak. Kepala dusun setempat dilaporkan sangat terpukul melihat kondisi warganya.
Banjir juga merusak infrastruktur, termasuk jembatan dan akses jalan, menyebabkan daerah tersebut sempat terisolir. Banjir Aceh Tamiang, dipicu oleh curah hujan sangat tinggi di daerah hulu Sungai Tamiang, yang kemudian meluap merendam wilayah di sekitarnya.

Wartawan Rata News.id Maradhona Ritonga dalam laporannya menyebutkan, Pemerintah daerah dan berbagai pihak, telah menyalurkan bantuan logistik. Warga dan pemerintah daerah juga mulai berbenah dan membangun tempat tinggal sementara pascabanjir.
Para korban banjir mendesak pada pemerintah pusat, untuk meningkatkan status bencana guna mendapatkan bantuan yang lebih komprehensif.
Ungkapan korban lain menyebutkan, banjir bandang yang melanda Aceh Tamiang, pada Rabu pekan lalu, meninggalkan bekas luka yang mendalam bagi Fitriana, 53 tahun. Fitriana adalah warga Desa Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh.

Pasalnya, mayoritas rumah di desa Fitriana rusak dihantam gelombang air banjir dan balok kayu gelondongan. Selain itu, Fitriana bilang, dirinya dan mayoritas warga tak mampu menyelamatkan satu pun harta benda hingga surat berharga, karena air yang sangat cepat naik.
“Mereka yang selamat itu, tinggal di atas bubung-bubung [atap] rumah, pertolongan enggak ada,” ujar Fitriana yang menyebut, bencana itu sebagai banjir terparah pernah terjadi di tanah kelahirannya.

Fitriana bertutur, selama beberapa hari warga desanya bertahan hidup di atap rumah. “Ada juga yang bertahan di atas atap rumah bersama anaknya berumur empat tahun, selama tiga hari tidak makan dan tidak minum,” kenang Fitriana.
Saat malam hari, keadaannya semakin mencekam. Fitriana menceritakan, suasana gelap gulita, suara arus banjir yang kencang disertai gemuruh gelondongan kayu, menghantam rumah-rumah warga, membuat dirinya ketakutan.
“Tak banyak yang bisa kami perbuat, kami hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT melindungi kami dari cengkraman bahaya, yang telah meluluhlantakkan kampung kami. Segala doa kami panjatkan, untuk mendapatkan mukjizat dari Sang Maha Kuasa, agar jiwa kami selamat,” tutur Fitriana, dengan air mata berlinang dipelupuk mata.

*Penyerahan Bantuan*
Tim relawan bantuan kemanusiaan RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi, saat tiba dilokasi terdampak banjir paling parah di Aceh Tamiang, langsung menuju Camp Pengungsian Dusun Al-Ikhsan, Desa Kota Lintang Bawah, Kecamatan Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Penyerahan bantuan langsung ke korban banjir.
Menurut Ketua Rombongan Ainal Iqram Sitepu didampingi relawan RSKP Tebingtinggi lainnya, seperti Irwansyah Nasution (Subbag Hukum dan Humas), Muhammad Turmuzi Hasibuan (Bagian Pelayanan), Umi Nandra (Poli Saraf), Gessa Pratama (Subbag Hukum dan Humas) dan Amir Hamzah Nur (Instalasi Gas Medis), menyebutkan bantuan obat-obatan diserahkan langsung ke Posko Kesehatan Relawan dari Jepang, sedang bantuan lainnya langsung kepada warga terdampak banjir.

Dilokasi bancana, Minggu pagi, (14/12/2025) Wartawan Rata News.id berkesempatan menyapa beberapa warga terdampak banjir. Wiwil, seorang warga yang bermukim di bantaran sungai Aceh Tamiang menceritakan, saat kejadian Air tiba-tiba naik begitu deras, tidak sampai 1 jam ketinggian air sudah hampir 5 sampai 6 meter, menerjang pemukiman warga, sehingga harta benda tidak ada yang terselamatkan.
Dikatakan Wiwil, beruntung korban jiwa tidak ada, karena warga cepat mencari tempat lebih tinggi, ada yang di atap rumah dan ada juga berlari ke atas jembatan besar Kuala Simpang.
Sedang korban lain, Ibu Pipin menyebutkan, warga Kota Lintang Bawah menyampaikan terima kasih kepada setiap orang yang datang memberi bantuan. “Karena kami sangat membutuhkan sekali,” ujar Ibu Pipin lirih.

Ibu Pipin yang ditemui rombongan RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi, dengan nada haru, sangat berterimakasih, atas bantuan dari kerabat dan Keluarga Muslim RSUD dr. Kumpulan Pane Kota Tebingtinggi dan ia berharap sekiranya ada bantuan lagi, barang yang sangat di butuhkan saat ini adalah kelambu, popok bayi, lilin atau lampu emergensi, matras untuk tidur dan tenda-tenda, juga sapu, cangkul dan air bersih, untuk minum dan mencuci pakaian kotor, juga pakaian.
Ibu Pipin berharap, agar pemerintah segera membangun rumah warga yg hancur parah di terjang derasnya air banjir.
Merujuk data BNPB, jumlah korban tewas di Kabupaten Aceh Tamiang berjumlah 48 orang dan 18 jiwa terluka. Sejumlah toko swalayan dan toko grosir di Aceh Tamiang, saat kondisi sangat kritis dijarah warga. Puluhan orang memaksa masuk, untuk mengambil persediaan makanan.

*Rumah Ibadah*
Sebuah Wihara di Aceh Tamiang, mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang, terjadi pada akhir November 2025, di mana kawasan itu disebut seperti “Kota Zombie”, karena kerusakan masif, namun laporan spesifik tentang Wihara di “Kota Lintang Bawah” yang ambruk tidak muncul di hasil pencarian, melainkan lebih menyoroti dampak umum banjir bandang, membuat Aceh Tamiang terisolir, putusnya akses, dan rumah warga hancur, disebabkan luapan Sungai Tamiang dan hujan ekstrem.
Banjir bandang dipicu oleh luapan Sungai Tamiang akibat hujan ekstrem yang berkepanjangan. (Laporan Wartawan Rata News.id Maradhona Ritonga, dari lokasi banjir Aceh Tamiang/sty).









