
PASAMAN, RATA NEWS.ID : Nama H. Eddi Gultom bukanlah sosok asing di kalangan insan pers Provinsi Sumatera Utara maupun Provinsi Sumatera Barat. Pria yang lahir Tahun 1958 di Perbaungan, Serdang Bedagai ini, telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia jurnalistik.
Pria berdarah Batak, kelahiran Kota Perbaungan Tahun 1958 dan lama bermukim di Kota Sei. Rampah sebelum akhirnya hijrah ke Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, tumbuh besar di Tanah Melayu, merupakan salah satu Wartawan Senior, telah melewati berbagai fase perkembangan pers Indonesia, mulai dari era keterbatasan teknologi, masa reformasi, hingga era digital saat ini.

Perjalanan Jurnalistik Eddi Gultom dimulai pada Tahun 1991. Di masa itu, profesi wartawan dijalani dengan penuh idealisme, semangat pengabdian dan tantangan yang tidak ringan.
Di era Teknologi informasi masih sangat terbatas, namun semangat mencari berita dan menyampaikan kebenaran kepada masyarakat, menjadi modal utama bagi para jurnalis pekerja pers konvensional.

Awal Menerjuni Dunia Jurnalistik
Langkah awalnya menerjuni Dunia Jurnalistik di Media Cetak, diawali ketika bergabung dengan Mingguan Berita “Inti Jaya”, Koran Terbitan Jakarta sebagai Perwakilan Sumatera Utara I, membawahi wilayah Sumatera Utara dan Aceh.
Kantor Perwakilan Media tersebut berada di Pasar VII Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang. Di Media inilah, sosok Eddi muda mulai mengasah naluri jurnalistiknya, bergabung dengan para seniornya, yang telah banyak makan asam garam dunia pers.
Ia belajar memahami dinamika sosial masyarakat, membangun jaringan narasumber, serta menanamkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik, yang kelak menjadi pegangan sepanjang kariernya.

Setelah kurang lebih satu tahun bersama Mingguan Inti Jaya, Eddi memutuskan bergabung dengan Harian Pagi Mimbar Umum Medan, yang berkantor di Jalan Prof. M. Yamin, Medan.
Di surat kabar yang dikenal sebagai salah satu media tertua di Sumatera Utara itu, ia menghabiskan hampir satu dekade perjalanan kariernya. Masa sepuluh tahun di Surat Kabar Harian Mimbar Umum, menjadi periode penting dalam pembentukan karakter profesionalnya sebagai wartawan. Jiwa kewartawanannya yang kritis, tekun, berani dan bertanggung jawab, terhadap setiap karya jurnalistik yang dihasilkannya, tetap dipegang teguh sampai hari ini.
Pada tahun 2002, Eddi melanjutkan kariernya di Surat Kabar Harian Umum Nasional Waspada Medan, salah satu media cetak paling berpengaruh di Sumatera Utara. Di sinilah kiprahnya semakin dikenal luas. Ia dipercaya menjadi wartawan Unit Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, tepat pada masa awal pemekaran daerah tersebut dari Kabupaten Deli Serdang.

Setelah tidak lagi berkiprah di Surat Kabar Harian Waspada, saat ini Eddi Gultom aktif di Media Online dan bergabung di Media Online Rata News.id, sebagai Redaktur dan Kepala Perwakilan Provinsi Sumatera Barat. Ia juga masih menulis di Media Online Desernews.com.
Perjalanan Karier Jurnalistik
Kepercayaan yang diberikan Pimpinan Redaksi Harian Waspada kepadanya, tidak hanya datang dari perusahaan media, tetapi juga dari kalangan wartawan sendiri. Berkat integritas, dedikasi, dan kepemimpinannya, Eddi Gultom dipercaya menjabat Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Serdang Bedagai periode 2010-2013.
Amanah tersebut menjadi bukti pengakuan atas kapasitas dan kontribusinya dalam membangun profesionalisme pers di daerah. Selama lebih dari tiga dekade menjalani profesi wartawan, Eddi Gultom telah menyaksikan dan meliput berbagai peristiwa penting, baik di dalam maupun luar negeri.

Pengalaman Liputan Mengalami Berbagai Peristiwa Penting
Ia pernah mengikuti studi banding Dinas Pendidikan Kabupaten Serdang Bedagai ke Kabupaten Jembrana, Bali, serta ke Pulau Penang, Malaysia. Ia juga ikut dalam kunjungan wartawan Unit Pemkab Serdang Bedagai ke Malaysia, yang dipimpin Kabag Humas saat itu, almarhum Rahmad Karo-Karo.
Pengalaman liputan lainnya, membawanya ke berbagai daerah seperti Yogyakarta, Bandung, Tangkuban Perahu, hingga Yonif 323 Raider Banjar, Jawa Barat. Salah satu pengalaman spiritual yang paling berkesan adalah, ketika ikut serta dalam perjalanan ibadah umrah, bersama rombongan Dinas Pendidikan Kabupaten Serdang Bedagai pada Juni 2009.
Selama 15 hari perjalanan tersebut, ia mengunjungi Kota Makkah dan Madinah, serta melanjutkan wisata religi ke Mesir. Di Negeri Para Nabi itu, Eddi mengunjungi Sungai Nil, Kota Alexandria, Universitas Al Azhar yang tersohor di dunia Islam, hingga berziarah ke makam Imam Syafi’i.
Sebagai wartawan lapangan, Eddi juga pernah meliput langsung bencana gempa bumi dahsyat, yang melanda Sumatera Barat pada 30 September 2009. Liputan kemanusiaan tersebut, menjadi salah satu pengalaman paling mengharukan dalam perjalanan jurnalistiknya.

Di tengah puing-puing bangunan dan penderitaan masyarakat terdampak bencana, ia menyaksikan langsung bagaimana solidaritas dan kepedulian sosial hadir, melalui bantuan yang dikirim Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai kepada korban gempa.
Berhadapan dengan Hukum, Tetap Teguh Menjaga Integritas
Dalam perjalanan jurnalistiknya, Eddi Gultom juga pernah menghadapi ujian berat, ketika digugat secara perdata oleh seorang kepala sekolah dasar, terkait pemberitaan yang dimuat Harian Mimbar Umum. Gugatan senilai Rp. 5 miliar tersebut, membawanya menjalani lima kali persidangan di Pengadilan Negeri Medan.
Pengalaman tersebut semakin memperkuat keyakinannya, bahwa profesi wartawan memiliki risiko besar. Menurut Eddi Gultom, wartawan yang benar-benar menjalankan tugas jurnalistik secara profesional, sering kali berada pada posisi tidak mudah.
”Seorang wartawan itu, ibarat sebelah kakinya di penjara dan sebelah kakinya lagi di kuburan,” ujarnya menggambarkan, betapa beratnya tantangan profesi yang menuntut keberanian, ketelitian dan tanggung jawab.

Prestasi dan Penghargaan
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Eddi Gultom berhasil menorehkan sejumlah prestasi yang membanggakan.
Pada tahun 1996, ia meraih penghargaan sebagai Wartawan dan Agen Terbaik Harian Mimbar Umum, bertepatan dengan peringatan Hari Ulang Tahun Emas ke-50 surat kabar tersebut.
Tahun 2008, ia kembali mengukir prestasi dengan meraih Juara I Lomba Karya Tulis, yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, dalam rangka Hari Jadi ke-4 Kabupaten Serdang Bedagai.
Selain itu, ia juga menerima berbagai penghargaan dari PWI Sumatera Utara, Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai, KONI Serdang Bedagai, serta institusi pendidikan di Pulau Penang, Malaysia.
Penghargaan-penghargaan tersebut, menjadi bukti bahwa karya jurnalistik yang dilahirkannya, tidak hanya memiliki nilai informasi, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah.

Membela Kaum Lemah dan Menjaga Marwah Pers
Selama bertugas sebagai wartawan, Eddi Gultom dikenal memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat kecil.
Banyak pemberitaannya mengangkat persoalan warga miskin, penderita penyakit menahun, serta kelompok masyarakat yang mengalami ketidakadilan.
Tidak sedikit dari berita ditulisnya, kemudian menggugah para dermawan untuk memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan.
Baginya, wartawan tidak sekadar bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan suara masyarakat yang tidak terdengar.
Ia selalu berpegang pada prinsip, bahwa kebenaran harusnya diperjuangkan dan orang yang benar tidak boleh dibiarkan menghadapi ketidakadilan sendirian.
Kritik terhadap Fenomena Pers Modern
Sebagai wartawan yang mengalami langsung perubahan besar dunia pers Indonesia, Eddi Gultom juga memberikan catatan kritis terhadap perkembangan media pasca-Reformasi 1998.
Menurutnya, kemudahan mendirikan perusahaan media, membawa dampak positif bagi kebebasan pers. Namun di sisi lain, kondisi tersebut juga melahirkan banyak media tanpa standar profesional yang memadai.
Akibatnya, tidak sedikit oknum yang mengatasnamakan profesi wartawan, tanpa memahami kaidah jurnalistik dan kode etik pers. Eddi menegaskan, bahwa wartawan sejatinya wajib memegang teguh Kode Etik Jurnalistik yang melarang menerima imbalan, meminta uang, maupun melakukan pemerasan terhadap narasumber.

“UU Pokok Pers dan Kode Etik Jurnalistik, harus dipegang teguh dan dipedomani bagi insan pers profesional,” kata Eddi Gultom. Ia juga mengingatkan, bahwa tindakan meminta dan memeras, hal itu bukan hanya mencederai profesi wartawan, tetapi juga merusak kepercayaan publik terhadap pers sebagai pilar demokrasi.
Jurnalistik Sebagai Jalan Pengabdian
Di tengah perjalanan panjangnya sebagai wartawan, Eddi Gultom kerap mengucapkan sebuah kalimat sederhana yang sarat makna : ”Kalau mau kaya, jangan jadi wartawan.” Ungkapan itu, lahir dari pengalaman panjang menjalani profesi, yang lebih mengedepankan idealisme dibanding keuntungan materi.
Meski demikian, ia meyakini bahwa profesi wartawan memiliki kekayaan yang tidak dapat diukur dengan materi, yaitu kehormatan, integritas dan kesempatan untuk berbuat bagi masyarakat.
Bagi Eddi Gultom, jurnalistik bukan sekadar pekerjaan. Jurnalistik adalah jalan pengabdian, ruang perjuangan dan sarana untuk menghadirkan kebenaran di tengah masyarakat.
Lebih dari tiga puluh lima tahun mengarungi dunia pers, Eddi Gultom telah menjadi saksi hidup perjalanan bangsa, pembangunan daerah, dinamika sosial masyarakat, serta perubahan besar dalam sejarah media Indonesia.
Dedikasi, keberanian dan konsistensinya menjaga marwah jurnalistik, menjadikan dirinya sebagai salah satu wartawan senior yang layak mendapat penghormatan atas pengabdiannya terhadap profesi dan kepentingan publik.
Dalam menekuni berbagai riak dan ombak didunia jurnalistik sebagai seorang Wartawan lapangan, ia tetap sebagai sosok yang religi, dengan tidak pernah meninggalkan ibadah menghadap Sang Khalik.
Persembahan hidupnya yang sangat disyukuri dan dinikmati, adalah ketika ia mampu menunaikan Rukun Islam Kelima, yaitu Menunaikan Ibadah Haji ke Tanah Suci Mekkah, pada Tahun 2024. “Saya sangat bersyukur, dengan segala keterbatasan, atas Rahmat dan Hidayah serta Rezeki yang diberikan Allah SWT, sehingga saya bisa berhaji,” ucapnya dengan mata berlinang, penuh haru, mengakhiri bincang-bincang kami disuatu sore, ditengah Areal Persawahan, tempatnya sekarang bermukim, di Kecamatan Dua Koto, Kabupaten Pasaman, yang merupakan daerah banyak perbukitan dan tidak jauh dengan Gunung Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. (**RN**).











