BREAKING

Diragazza Flore - IMG 20250817 WA0002 scaled
MUI KOTA TEBINGTINGGI

Terjadi Di Kota Tebingtinggi, Mantan Ketua MUI Masih Membuat Surat Menggunakan Stempel Dan Kop Surat Resmi, Tak Terima Kekalahan

Tebingtinggi, Rata News.id :
Sesuatu yang janggal terjadi pada organisasi keagamaan tertinggi di Kota Tebingtinggi. Sangat tak lazim, pengurus demisioner (berakhirnya masa jabatan atau kekuasaan seseorang dalam suatu organisasi) MUI Kota Tebingtinggi masa khidmat 2020-2025, namun sang mantan ketua masih membuat surat ditujukan ke Ketua MUI Sumut, prihal keberatan hasil Musda, dengan menggunakan kop surat dan stempel resmi. Bahkan memaksakan diri, mewakili MUI Kota Tebingtinggi menghadiri acara Musda ke-X MUI Sumut, Sabtu (27/10/2025), di Medan.

Keinginan kuat H. Achyar Nasution dan Muhammad Hasbie menghadiri Musda ke-X MUI Sumut, walau bukan lagi pengurus MUI Kota Tebingtinggi, tapi cuma mantan, hanya berkeinginan bertemu langsung dengan Ketum MUI Sumut DR. H. Maratua Simanjuntak, untuk menyampaikan cerita versi mereka.

Menurut sumber Rata News.id dari arena Musda ke-X MUI Sumut, di Medan, H. Achyar Nasution dan Muhammad Hasbie berhasil bertemu dengan DR. H. Maratua Simanjuntak dan menyampaikan surat keberatan serta susunan pengurus baru.

Pada pertemuan itu, kata sumber tadi, selain menyampaikan uneg-unegnya dalam surat, H. Achyar cs juga mempermasalahkan domisili (tempat tinggal) H. M. Ghazali Saragih, yang kata mereka tinggal di Kampung Pon Serdangbedagei.

Padahal, H. M. Ghazali Saragih, yang sempat dua priode Ketua Alwasliyah, selama ini bermukim di Kota Tebingtinggi. Namun karena, menikah lagi (isteri sebelumnya meninggal dunia) dan rumah isterinya di Kampung Pon, tapi mereka masih juga selalu tinggal dirumahnya di Kota Tebingtinggi.

“Berbagai alasan disampaikan kepada Ketum MUI Sumut DR. H. Maratua Simanjuntak, tapi belum mendapat respon, termasuk susunan pengurus yang disodorkan masih dipending,” ujar sumber tadi, sembari mengatakan Ketum MUI Sumut akan mengutus pengurus MUI Sumut ke Kota Tebingtinggi.

Menurut sumber Rata News.id di Tebingtinggi, sebelum membuat surat ke MUI Sumut berisi keberatan hasil Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi dan menghadiri acara Musda MUI Sumut, H. Achyar Nasution dkk berencana membuat pertemuan dengan Organisasi Islam se-Kota Tebingtinggi, seperti Alwasliyah, Muhamadiyah, NU, Al-Ittihadiyah dan lainnya serta mengundang Ketua dan Sekretaris terpilih masa khidmat 2025-2030. Namun ketua dan sekretaris terpilih tidak hadir.

Karena ketua terpilih tidak hadir, skenario dirubah, acara tetap dibuat, tapi yang mengundang adalah organisasi Islam. Pada kesempatan tersebut, ketua dan sekretaris terpilih hadir. Pada pertemuan itu, berbagai uneg-uneg dari para pihak disampaikan terkait hasil Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, yang diadakan pada tanggal 20 Desember 2025. “Ujung-ujungnya, H. Achyar Nasution bersama Muhammad Hasbie Ashshiddiqi, MM, MSi (saat ini menjabat Kadis Sosial), yang sebelumnya duduk sebagai Ketua dan Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, mundur, digantikan Drs. H. Nizar Rangkuti sebagai Ketua dan Ali Hasan sebagai Sekretaris,” sebut sumber Rata News.id.

Terjadi Di Kota Tebingtinggi, Mantan Ketua MUI Masih Membuat Surat Menggunakan Stempel Dan Kop Surat Resmi, Tak Terima Kekalahan - IMG 20251229 WA0018
Sekretaris Tim Formatur Musda MUI X Kota Tebingtinggi, Dr. MHD. Hasbie asshiddiqie (sekarang  menjabat Kadis Sosial Pemko Tebingtinggi ) saat membacakan susunan pengurus MUI Kota Tebingtinggi.

Namun tiba-tiba, setelah pertemuan tersebut, beberapa hari kemudian, beredar surat dari yang mengatakan Ketua demisioner MUI Kota Tebingtinggi H. Achyar Nasution, tanpa ada sekretaris nya. “Ini sudah akal-akalan saja dan lawak-lawak, mundur dari Ketua Dewan Pertimbangan, lalu membuat surat keberatan hasil Musda, sehingga sepertinya H. Achyar dan Muhammad Hasbie Ashshiddiqi, MM, MSi (saat ini menjabat Kadis Sosial), dari awal tidak mengakui hasil Musda,” ucap beberapa tokoh agama menyesalkan sikap mantan Ketua MUI tersebut, sembari mengatakan surat itu keliru, hanya ingin mengelabui Ketua MUI Sumut.

Menurut seorang tokoh agama yang bukan pengurus MUI, menyayangkan munculnya situasi seperti itu, padahal dalam kelompok H. Achyar Nasution terdapat Muhammad Hasbie Ashshiddiqi, MM, MSi (saat ini menjabat Kadis Sosial) sebelumnya adalah Sekretaris MUI dan sedang menjabat sebagai Kadis Sosial Pemko Tebingtinggi, tapi larut dalam permasalahan ini. “Sepertinya ada hal-hal tersembunyi, sehingga dia berani menentang arus dan berseberangan,” ucap sumber tadi, sembari mengatakan jangan dijadikan rumah besar MUI sebagai tempat berlindung dari jangkauan pihak lain.

Seharusnya, sebelum pemilihan dimulai, para calon harus sudah diseleksi, termasuk latar belakang mereka. “Jangan sudah selesai, ribut, kelihatan tidak profesional dalam berorganisasi, malu kita, juga membuat malu pemerintah daerah,” kata beberapa ustad.

Sebagaimana diketahui, hasil sidang Tim Formatur Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, Sabtu (20/12/2025), yang di Ketuai Drs. H. Achyar Nasution (Ketua MUI lama) dan Sekretaris H. Muhammad Hasbie Ashshiddiqi, MM, MSi (saat ini menjabat Kadis Sosial), berhasil memilih duet pucuk pimpinan baru yaitu, Ketua H. M. Ghazali Saragih dan Sekretaris Chairil Anwar Pulungan.

Namun pasca terpilihnya duet H. M. Ghazali Saragih dan Chairil Anwar Pulungan sebagai Ketua dan Sekretaris MUI Kota Tebingtinggi masa khidmat 2025-2030, masih memunculkan pernak-pernik cerita tak sedap.

Walau duet Drs. H. Achyar Nasution dan Muhammad Hasbie Ashshiddiqi, MM, MSi, tidak mendapat dukungan penuh dari Tim Formatur yang mereka pimpin, namun masih berupaya mencari celah melakukan penggembosan ketua dan sekretaris terpilih.

Diperoleh Wartawan Rata News.id, Sabtu (27/12/2025), beredar sebuah surat ditandatangani Drs. H. Achyar Nasution menggunakan kop dan stempel MUI, ditujukan ke Ketua Umum DP-MUI Provinsi Sumatera Utara, yang isinya keberatan atas terpilihnya duet H. M. Ghazali Saragih dan Chairil Anwar Pulungan, sebagai Ketua dan Sekretaris terpilih MUI Kota Tebingtinggi, masa khidmat 2025-2030.

Dalam surat tersebut, H. Achyar Nasution menyebutkan diri sebagai Ketua Demisioner MUI Kota Tebingtinggi 2020-2025, lalu dengan menggunakan kop surat dan stempel resmi (tapi tidak tertera sekretaris), memohon agar Ketua Umum MUI Sumatera Utara, melakukan peninjauan kembali hasil ketetapan Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi.

Terjadi Di Kota Tebingtinggi, Mantan Ketua MUI Masih Membuat Surat Menggunakan Stempel Dan Kop Surat Resmi, Tak Terima Kekalahan - IMG 20251229 WA0019
Suasana Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, Sabtu (20/12/2025), di Gedung Hj. Sawiyah, Jalan Dr. Sutomo.

Pertimbangan disampaikan Achyar dalam surat menggunakan No : B176/DP-K.II-10/SR/XII/2025 tertanggal 23 Desember 2025, prihal mohon peninjauan kembali hasil Musda, yaitu karena adanya keberatan dari beberapa tokoh masyarakat dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, bahkan sebagian peserta Musda.

Keberatan yang dimaksud Achyar dalam suratnya yaitu, mengenai mekanisme pencalonan Ketua dalam pelaksanaan Musda, telah melanggar Tata Tertib Musda BAB VI pasal 19 huruf I, berbunyi bahwa ketua yang akan dipilih pernah menjadi pengurus Dewan Pimpinan MUI. Disebutkan H. Achyar, Drs. H. M. Ghazali Saragih, tidak pernah menjabat sebagai DP MUI Kota Tebingtinggi.

Kemudian pada point berikutnya disebutkan, bahwa sekretaris terpilih Chairil Anwar Pulungan, SpdI disinyalir adalah Pengurus Inti Partai Gelora Kota Tebingtinggi dan masih tercatat sebagai pengurus.

Dan pada point terakhir, H. Achyar Nasution yang masih berambisi menjadi Ketua MUI berikutnya mengakui, saya secara pribadi merasakan adanya tekanan psikologis dari banyak kalangan (pengurus daerah dan kecamatan), bahkan unsur formatur untuk tidak maju kembali sebagai ketua yang akan dipilih, karena itu saya melihat pelaksanaan Musda jauh dari nilai-nilai etika agama dan pedoman pokok organisasi.

Dari berbagai alasan yang disampaikan itu, H. Achyar Nasution, mohon pada Ketua DP MUI Sumut untuk melakukan peninjauan kembali hasil ketetapan Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi.

Berbagai pihak yang tahu persis jalannya Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, sangat menyayangkan sikap Drs. H. Achyar Nasution dan Muhammad Hasbi, yang tidak dewasa dalam berorganisasi dan tidak bisa menyikapi situasi dan kondisi politik. Juga, semestinya pengurus yang sudah demisioner tidak boleh membuat surat resmi pakai nomor, kop surat dan stempel.

Seharusnya mereka menyadari, ujar seorang tokoh agama, ketidakhadiran Walikota, Wakil Walikota ataupun Sekdako Tebingtinggi dalam acara Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, sudah menyiratkan bahwa hubungan antara Ulama dengan Umaroh terlihat tidak harmonis, sehingga saat kehadiran tokoh kharismatik yaitu Ketua MUI Sumut Dr. H. Maratua Simanjuntak dalam acara tersebut, tidak mendapat sambutan resmi dirumah dinas Walikota.

“Melihat kondisi Musda MUI Kota Tebingtinggi seperti itu, Ketua MUI Sumut pun pulang sebelum acara selesai dan sangat disesalkan, tidak ada jamuan makan siang untuk beliau,” ujar beberapa peserta Musda.

Terkait dengan keberatan H. Achyar Nasution, tentang Ketua dan Sekretaris terpilih yang tidak sesuai dengan Tatib, Wartawan Rata News.id mendapat informasi, bahwa Ketua terpilih H. M. Ghazali Saragih, sebelumnya adalah pengurus MUI masa khidmat 2020-2025, duduk sebagai Anggota Dewan Pertimbangan, sesuai SK DPP MUI Sumut No. Kep-068/DP-P.II/X/2024, ditandatangani Ketua Umum MUI Sumut DR. H. Maratua Simanjuntak dan Sekum Prof. Dr. H. Asmuni, MA.

Terjadi Di Kota Tebingtinggi, Mantan Ketua MUI Masih Membuat Surat Menggunakan Stempel Dan Kop Surat Resmi, Tak Terima Kekalahan - IMG 20251229 WA0020
Ketua dan Sekretaris terpilih MUI Kota Tebingtinggi, H. M. Ghazali Saragih dan Chairil Anwar Pulungan, sedang menikmati santap siang.

Sementara itu, terkait dengan Sekretaris terpilih Chairil Anwar Pulungan yang dalam surat H. Achyar Nasution disinyalir masih pengurus partai Gelora, dibantah yang bersangkutan. “Saya sudah membuat surat mengundurkan diri dan balasan dari partai sudah ada pak, jadi saat terpilih bukan lagi pengurus partai,” jelas Chairil ketika dihubungi via hp dengan nada lemah lembut.

Menyikapi dinamika yang terjadi, pasca pelaksanaan Musda ke-X MUI Kota Tebingtinggi, beberapa tokoh agama di Kota Tebingtinggi, mengingatkan kembali peristiwa Musda ke-IX MUI Kota Tebingtinggi, tahun 2020.

Pada saat itu, calon Ketua MUI ada dua orang, yaitu Drs. H. Nizar Rangkuti (mantan sekretaris DPRD) dan H. Achyar Nasution (unsur organisasi Alwasliyah). Diatas kertas, Drs. H. Nizar Rangkuti, diunggulkan banyak pihak pasti menang.

Namun kenyataannya berbeda, H. Achyar Nasution menang tipis, hanya unggul 1 suara, dari 13 pemilik suara. Drs. H. Nizar Rangkuti tabayyun, menerima kekalahan dengan lapang dada, tidak bermanuver atau ribut-ribut.

Karena sudah berhembus kencang kabar, sebelum pemilihan H. Achyar Nasution bersama timnya sudah merapat ke Walikota masa itu, Alm. H. Umar Junaidi Hasibuan. “Jadi, karena Umaroh sudah membuka pintu, kemenangan H. Achyar Nasution, berjalan mulus”, kata tokoh tadi.

“Jadi, H. Achyar Nasution harus memahami itu, kondisi saat ini juga sama seperti saat dia mencalonkan diri pada tahun 2020. Kalau bisa dibilang, saat itu H. Achyar bukan pengurus MUI, tapi tidak dipermasalahkan, karena sudah mendapat restu Walikota,” papar beberapa tokoh agama, enggan disebut namanya.

Untuk menjaga kondusifitas MUI Kota Tebingtinggi, tentunya Ketua Umum MUI Sumut yang baru terpilih kembali, untuk masa khidmat 2025-2030, DR. H. Maratua Simanjuntak tentu bisa menyikapi dengan baik, terkait dinamika yang terjadi.

“Sebelumnya kita berharap, pengurus MUI Kota Tebingtinggi masa khidmat 2025-2030 hasil kerja tim formatur di komandoi H. Achyar Nasution dirombak total, karena berisi orang-orang dari kelompok H. Achyar Nasution dan Muhammad Hasbi. Harus diganti sesuai keinginan ketua terpilih, agar nantinya tidak menggembosi,” ucap seorang peserta Musda, seraya menyebutkan bahwa masih banyak orang-orang punya kompetensi dan kemampuan belum terakomodir di kepengurusan MUI.

Apa yang disampaikan H. Achyar Nasution dalam suratnya, yaitu melihat pelaksanaan Musda jauh dari nilai-nilai etika agama dan pedoman pokok organisasi, juga pernah dilakukannya pada Tahun 2020. “Memang kondisi Pemilihan pengurus disemua organisasi ya seperti itu, siapa yang mendapat restu penguasa pasti menang, jangan dinafikan itu, ikhlas saja, tabayyun,” sebut beberapa tokoh agama yang enggan berkonflik. (02.RN/sty).

IKLAN FLORIS - WhatsApp Image 2025 07 20 at 21.08.27
Iklan gpaym - IMG 20250727 WA0005

Leave A Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Related Posts